Hari itu rumah keluarga Barrett kembali ramai—lebih hangat dari biasanya. Udara sore Jakarta yang lembut masuk lewat jendela besar ruang tamu, membawa aroma laut yang samar.
Di tengah ruangan, suara tawa silih berganti. Rean dan Lamelo baru saja pulang setelah cukup lama tinggal di Europa, dan seluruh keluarga sudah menanti sejak pagi.
Zizi sudah paling heboh dari semuanya. Begitu Rean melangkah masuk, ia langsung memeluknya erat sambil menatap perut Rean yang kini tampak sedikit membulat.
“Oh my God, look at you!” serunya setengah berteriak, tangannya refleks mengelus perut Rean dengan lembut.
Rean tersipu kecil, “Stop it, Zi… it’s not that big yet.”
Zizi tertawa renyah, “Still, lo gemes banget! Ngga nyangka gua bentar lagi jadi auntie.”
Mereka semua duduk di ruang tengah, bercanda dan bercerita.
Kamero, si bungsu barret yang selalu usil — anak dari tante Lamelo, malah sempat bertanya polos, “Kak Rean, bayinya bisa denger orang ngomong ga sih dari dalem?”
Rean menatapnya geli, “Bisa kali ya, makanya jangan ngomong aneh-aneh, nanti dia hafal.”
Kamero langsung ketawa, “Berarti kalo aku nyanyi, dia bisa hafal juga dong? Wah, kasian banget anaknya.”
Suara tawa pun pecah di seluruh ruangan.
Sementara itu, Diko — kakak dari Kamero sibuk menyiapkan kamera kecil di atas meja.
“We need to record this,” katanya dengan nada semangat berlebihan, “You know, first family reunion after the baby news.”
Rean mengangguk, lalu duduk di samping Lamelo yang dari tadi diam saja, hanya sesekali menatap Rean dengan ekspresi lembut tapi protektif.
Setiap kali Rean berdiri dan hendak ke dapur, Lamelo pasti langsung ikut di belakangnya.
“Kamu ngapain ngikutin terus?” tanya Rean sambil menoleh.
Lamelo menjawab santai, “Takut kamu kepeleset.”
Rean mengangkat alis, “Di dapur?”
Lamelo mengangguk serius, “Bisa aja, kan licin.”
Rean hanya mendengus, tapi bibirnya tersenyum.